Ket. Naufal Ubaidillah Ketua Umum Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Turki
Suarainetizen.com, Jakarta, Istanbul, Türkiye — Naufal Ubaidillah, President of Global Youth Diplomacy Community in Türkiye, Ketua Umum Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Turki, sekaligus Founder & Ketua Umum Terdepan Institute, menyampaikan pidato strategis mengenai kebijakan swasembada pangan dan hilirisasi industri Indonesia di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto sebagai platform kemajuan ekonomi bagi negara-negara Global South, dalam konferensi internasional Divan Association yang dipimpin Mr. Sinan Çelikkol dan didirikan Mr. Cihangir İşbilir.
Dalam pidatonya, Naufal menegaskan bahwa kebijakan ekonomi Presiden Prabowo Subianto menandai pergeseran paradigma pembangunan Indonesia, dari ekonomi berbasis ekspor bahan mentah menuju kedaulatan pangan dan industrialisasi bernilai tambah.
“Pada tahun 2025, Indonesia berhasil mencapai swasembada beras secara penuh. Ini adalah bukti bahwa dengan intervensi kebijakan yang tepat—mulai dari reformasi subsidi pupuk, pembangunan irigasi, mekanisasi pertanian, hingga penggunaan benih unggul—negara Global South mampu membangun kemandirian pangan tanpa harus bergantung pada impor struktural,” tegas Naufal dalam keterangan Senin, (2/2/2026).
Ia menjelaskan bahwa swasembada pangan tidak hanya berdampak pada stabilitas harga dan ketahanan sosial, tetapi juga menjadi fondasi utama kedaulatan politik dan keamanan nasional, terutama bagi negara berkembang yang rentan terhadap krisis global.
Selain sektor pangan, Naufal menyoroti kebijakan hilirisasi industri sebagai pilar utama transformasi ekonomi Indonesia di era Presiden Prabowo Subianto.
“Hilirisasi industri Indonesia difokuskan pada sektor-sektor strategis seperti mineral kritis, energi, pertanian olahan, dan manufaktur berbasis sumber daya nasional. Kebijakan ini bertujuan memutus ketergantungan pada ekspor bahan mentah dan mengunci nilai tambah di dalam negeri,”jelasnya.
Menurutnya, kebijakan hilirisasi ini telah menunjukkan dampak nyata terhadap penciptaan lapangan kerja dan daya serap investasi.
“Berdasarkan proyeksi kebijakan hilirisasi nasional, Indonesia berpotensi menciptakan sekitar ±8 juta lapangan kerja baru, terutama di sektor industri pengolahan dan rantai pasok turunannya. Ini menunjukkan bahwa industrialisasi bukan hanya soal pertumbuhan, tetapi juga keadilan sosial,” ujar Naufal.
Lebih jauh, Naufal menekankan bahwa pengalaman Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dapat menjadi model pembangunan alternatif bagi negara-negara Global South di Asia, Afrika, dan Amerika Latin.
“Banyak negara Global South menghadapi masalah serupa: ketergantungan pangan, ekonomi ekstraktif, dan lemahnya basis industri. Indonesia menunjukkan bahwa dengan kepemimpinan politik yang kuat dan visi jangka panjang, negara berkembang dapat keluar dari jebakan tersebut,” tambahnya.
Konferensi Divan Association sendiri merupakan forum dialog strategis lintas kawasan yang membahas geopolitik, ekonomi global, dan masa depan tatanan dunia multipolar. Kehadiran Naufal Ubaidillah dalam forum ini menegaskan meningkatnya peran diplomasi pemuda Indonesia dalam membawa narasi pembangunan, kedaulatan ekonomi, dan kerja sama Global South ke panggung internasional.
Melalui perannya sebagai pemimpin organisasi pemuda internasional, Ketua Umum PPI Turki, serta pimpinan think tank Terdepan Institute, Naufal mendorong Indonesia tidak hanya menjadi objek percaturan global, tetapi tampil sebagai referensi kebijakan dan mitra strategis bagi negara-negara Global South di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.***

More Stories
Ketum SPNMI Puji Kinerja Kapolda Metro Jaya, Sebut Jakarta Kian Aman
Kaukus Parlemen Serukan Perdamaian M.Nuh: Jangan Sampai Perang Ganggu Ibadah Haji 2026
Ridlwan Habib: BIN All-Out Bantu Pemerintah Loloskan Kapal Tanker Indonesia di Selat Hormuz