
Ket :Hatta Bani Zuhri Kabid PU HMI Badko Riau-Kepri
Riau,SuaraINetizen.Com – OPINI, Delapan puluh (80) tahun sudah bangsa Indonesia menapaki jalan panjang sejarah kemerdekaan. Perjalanan ini tidak sekadar catatan waktu, tetapi juga cermin perjuangan, pengorbanan, serta cita-cita luhur para pendiri bangsa. Mereka berjuang bukan hanya untuk mendirikan sebuah negara, melainkan untuk menghadirkan kedaulatan, keadilan, dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat.
Dalam konteks ini, pemberdayaan umat menjadi salah satu kunci penting dalam mengisi kemerdekaan. Sebab, umat adalah kekuatan mayoritas yang sekaligus menjadi fondasi sosial bangsa. Kemerdekaan yang hakiki tidak akan terwujud apabila umat masih terjebak dalam belenggu kemiskinan, ketertinggalan pendidikan, dan lemahnya kemandirian ekonomi.
Selama delapan dekade perjalanan bangsa, tantangan umat terus hadir dalam wajah yang berbeda. Dahulu, tantangan kita adalah penjajahan fisik. Kini, tantangan itu berwujud kesenjangan sosial ekonomi, rendahnya literasi, lemahnya daya saing, hingga krisis moral dan degradasi lingkungan. Semua ini menuntut umat untuk tidak hanya menjadi objek pembangunan, tetapi tampil sebagai subjek yang aktif menggerakkan perubahan.
Islam, sebagai agama mayoritas di negeri ini, telah mewariskan spirit rahmatan lil ‘alamin yakni rahmat bagi seluruh alam. Spirit ini seharusnya menjadi energi utama dalam pemberdayaan umat. Zakat, infak, sedekah, dan wakaf bukan sekadar ibadah ritual, melainkan instrumen sosial ekonomi yang mampu mengurangi kesenjangan. Pendidikan berbasis nilai Islam bukan sekadar transfer ilmu, melainkan juga pembentukan karakter generasi yang berintegritas. Demikian pula gerakan sosial umat harus hadir sebagai kekuatan yang memperkuat ukhuwah, memperjuangkan keadilan, dan mengangkat harkat masyarakat kecil.
Refleksi 80 tahun Indonesia seharusnya menjadi momentum bagi umat untuk menata langkah ke depan. Umat harus merdeka secara spiritual, berdaya dalam ekonomi, unggul dalam pendidikan, dan kuat dalam solidaritas sosial. Hanya dengan itu, umat dapat menjadi agen perubahan yang nyata, tidak hanya bagi bangsa sendiri, tetapi juga memberi manfaat bagi dunia.
Kini pertanyaannya: sudahkah umat benar-benar merdeka? Ataukah kita masih terjebak dalam ketergantungan, pasif, dan hanya menjadi penikmat pembangunan? Jawaban dari pertanyaan ini akan menentukan arah perjalanan kita menuju seratus tahun Indonesia pada 2045 nanti.
Pemberdayaan umat bukanlah sekedar program, melainkan jalan panjang yang harus terus diperjuangkan. Sebab, hanya dengan umat yang berdaya, cita-cita kemerdekaan yang sesungguhnya serta keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia akan benar-benar menjadi nyata.
OPINI :Hatta Bani Zuhri
Ketua Bidang Pemberdayaan Umat Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam Riau – Kepulauan Riau
( Red )
More Stories
Dianggap Gagal, Guru Besar Ganti Kapolri
Program Sekolah Rakyat Presiden Prabowo Diapresiasi Guru Besar UNM
Pentingnya Pemilihan RT/RW di Pekanbaru: Afriadi Andika Ingatkan DPRD Jalankan Amanah Konstitusi