Tadarus Brimob-Bhayangkari Perkuat Spirit Ramadan

Cikarang – Satbrimob Polda Metro Jaya bersama Bhayangkari menggelar tadarus Al-Qur’an di Masjid Al-Amin Batalyon D Pelopor.

Kegiatan dimulai pukul 08.20 WIB setelah apel pagi sebagai bagian pembinaan rohani selama Ramadan 1447 Hijriah.

Anggota yang tidak menjalankan tugas langsung menuju masjid lalu mengikuti tadarus dengan penuh kekhusyukan dan kebersamaan.

Personel memfokuskan pembacaan pada Juz 11 sambil menyimak lantunan ayat suci secara bergiliran hingga kegiatan berakhir.

Lantunan Al-Qur’an menggema di dalam masjid dan menghadirkan suasana religius yang menenangkan seluruh peserta.

Kehadiran Bhayangkari menambah semangat kebersamaan sekaligus mempererat hubungan keluarga besar Brimob di lingkungan satuan.

“Kami ingin memperkuat iman sekaligus menjaga soliditas keluarga besar Brimob,” ujar salah satu peserta tadarus.

Kegiatan rutin ini mendorong personel menjaga keseimbangan antara tugas operasional dan kebutuhan spiritual selama Ramadan.

Nilai keimanan yang kuat membantu anggota menjalankan tugas dengan disiplin, empati, serta pendekatan humanis kepada masyarakat.

Setelah tadarus selesai, personel kembali siaga di Mako sambil memantau perkembangan situasi keamanan wilayah.

Anggota menjaga kesiapsiagaan agar masyarakat menjalankan aktivitas Ramadan dengan aman dan nyaman sepanjang hari.

Melalui momentum Ramadan, Polri mengajak masyarakat meningkatkan ibadah serta menjaga toleransi demi menciptakan lingkungan damai dan harmonis.

About The Author

BACA JUGA:  Wujudkan Pertahanan Laut, Indonesia Maksimalkan Moderenisasi Alutsista Jakarta - LEMBAGA Kajian Geopolitik dan Pertahanan (Geodef Institute) menggelar diskusi ilmiah (Expert Discussion) bertema  Modernisasi Sistem Pertahanan Laut : Menjawab Tantangan Geopolitik dan Mewujudkan Postur Essential Force (MEF) di Jakarta, Selasa (25/11/25). Direktur Eksekutif Sahrir Rumluan mengatakan bahwa diskusi ini bertujuan untuk menganalisis isu-isu strategis terkini dalam bidang pertahanan dan keamanan nasional.  Menurut Sahrir, untuk memodernisasi sistem pertahanan laut strategis di Indonesia, membutuhkan peningkatan anggaran. "Karena itu, menjadi urgen peningkatan alutsita pertahanan laut untuk dimoderenisasi dan peningkatan anggaran terkait moderenisasi sistem pertahanan laut Indonesia itu sendiri. Jadi, Indonesia harus berupaya secara maksimal dalam konteks anggarannya sehingga Indonesia menjadi negara yang kuat dalam pertahanan laut secara komprehensif," kata Sahrir. Karena itu, Sahrir mengatakan Indonesia harus Mengukur Kesiapan Armada untuk mengevaluasi Capaian Minimum Essential Force (MEF). Menurut Sahrir, Geodef Institute bersama para expert berupaya maksimal menganalisis sejauh mana target MEF 2024 khususnya matra laut telah tercapai, membandingkannya dengan kekuatan dan kebijakan anggaran pertahanan laut negara-negara tetangga. "Selain, tentu saja berupaya merumuskan rekomendasi kebijakan anggaran pertahanan laut yang strategis untuk masa depan," kata Sahrir. Diskusi Geodef institute yang dipandu Gemah Putra ini menghadirkan pembicara : Pengamat Geopolitik Hendrajit, Pengamat Politik Fajrin Rumalutur dan Pengamat Militer Khairul Fahmi. Menurut Hendrajit, tantangan geopolitik Indonesia, masuk dalam katagori strategis dan kompleks. Karena itu, Indonesia melibatkan komponen bangsa, untuk bela negara dalam kerangka geopolitik. Pengamat Politik Fajrin Rumalutur menegaskan bahwa peningkatan modernisasi alutsista menjadi kebutuhan dalam penguatan kapasitas sistem pertahanan laut indonesia. "Politik anggaran pertahanan yang berbasis pada kebutuhan real dan tantangan di lapangan. Selain untuk meningkatkan kapasitas pertahanan laut kita juga mengantisipasi aktivitas non perang yang menyebabkan kerugian negara seperti praktik ilegal fishing, human traficking dan transaksi narkotika," kata Fajrin. Menurut Fajrin, pemerintah kiranya perlu menambah alokasi anggaran untuk Matra angkatan laut pada angka yang ideal dan proporsional. Sedangkan Pengamat Militer Khairul Fahmi mengatakan bahwa modernisasi tidak hanya pada alutsista saja, tapi juga readyness dan peningkatan soft skill serta sumberdaya prajurit yang handal, mumpuni dan profesional. "Karena itu, anggaran pertahanan Indonesia perlu didorong hingga 1 persen dari Gross Domestic Product," kata Khairul Fahmi.