Suara Inetizen

suarainetizen.com

Dadang Rachmat Raih Tokoh Pers Tangguh, Asri Hadi Soroti Masa Depan Pers

Jakarta – Ketahanan pers menghadapi perubahan zaman kembali menjadi sorotan setelah Dadang Rachmat meraih penghargaan Tokoh Pers Tangguh.

Ketua Dewan Pakar Asosiasi Media Konvergensi Indonesia (AMKI) Pusat, Drs. Asri Hadi, M.A., menyampaikan ucapan selamat atas penghargaan tersebut.

Dadang Rachmat menerima penghargaan dalam puncak HUT ke-11 Media Sudut Pandang di Hotel Luminor Pecenongan, Jakarta Pusat, Kamis (3/9/2026).

Pimpinan Redaksi MITRAPOL sekaligus Ketua Umum AMKI itu meraih penghargaan karena konsisten menjalankan profesi jurnalistik.

Selain menjalankan tugas jurnalistik, Dadang juga mempertahankan keberlangsungan media ketika industri pers mengalami perubahan secara cepat.

Asri Hadi menilai penghargaan tersebut mencerminkan pentingnya konsistensi insan pers dalam mempertahankan profesionalisme dan kepercayaan masyarakat.

“Penghargaan ini bukan hanya bentuk apresiasi atas perjalanan dan konsistensi dalam menjalankan profesi jurnalistik,” ujar Asri Hadi.

Menurutnya, profesi pers membutuhkan ketekunan, integritas, keberanian, sekaligus tanggung jawab terhadap kepentingan publik.

Karena itu, ia berharap penghargaan tersebut mendorong Dadang terus menjaga kualitas pemberitaan dan ikut memperkuat industri media nasional.

“Semoga penghargaan ini menjadi energi positif untuk terus berkarya, memperkuat profesionalisme, menjaga independensi, dan memberikan kontribusi bagi perkembangan pers Indonesia,” katanya.

Ketahanan Pers Diuji Arus Informasi

Asri Hadi menilai perubahan teknologi telah menciptakan tantangan baru bagi perusahaan pers dalam mempertahankan perhatian dan kepercayaan pembaca.

Arus informasi bergerak semakin cepat, sedangkan publik dapat berpindah dari satu isu menuju isu lainnya dalam waktu singkat.

Kondisi tersebut mendorong media berlomba menghadirkan informasi secepat mungkin kepada masyarakat.

Namun, Asri Hadi mengingatkan kecepatan tidak boleh menggeser akurasi sebagai salah satu prinsip utama jurnalistik.

“Judul boleh singkat, berita boleh cepat, tetapi proses jurnalistik tidak boleh kehilangan ketelitian,” tegasnya.

BACA JUGA:  Satgas Yonif 751/VJS Antar Warga Mimin Kembali ke Kampung Setelah 9 Bulan Mengungsi

Ia meminta insan pers tetap memeriksa fakta dan melakukan verifikasi sebelum menyampaikan informasi kepada masyarakat.

Selain itu, media perlu memberikan ruang kepada pihak terkait agar pemberitaan tetap memenuhi prinsip keberimbangan.

Menurut Asri Hadi, langkah tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga kredibilitas media di tengah kompetisi digital.

Media, katanya, tidak dapat mengandalkan kecepatan atau jumlah pembaca semata untuk mempertahankan eksistensinya.

Sebaliknya, perusahaan pers membutuhkan fondasi berupa integritas, konsistensi, keberimbangan, serta keberanian menjalankan proses verifikasi.

“Jurnalistik bukan sekadar siapa yang paling cepat memberitakan, tetapi siapa yang mampu memberikan informasi yang benar, berimbang dan bermanfaat bagi masyarakat,” katanya.

Kepercayaan Menjadi Modal Utama Media

Asri Hadi menilai tema “11 Tahun Merawat Kepercayaan” dalam HUT Media Sudut Pandang menggambarkan tantangan utama yang menghadapi industri pers.

Menurutnya, perjalanan sebuah media tidak cukup diukur berdasarkan usia atau lamanya perusahaan menerbitkan berita.

Media juga harus menunjukkan kemampuan menjaga hubungan kepercayaan dengan pembaca melalui kualitas informasi.

“Media bisa bertahan bukan hanya karena mampu mengikuti perkembangan teknologi, tetapi karena mampu mempertahankan kepercayaan pembacanya,” tuturnya.

Ia menilai kepercayaan publik tumbuh melalui konsistensi media menjalankan tanggung jawab jurnalistik.

Sebaliknya, kesalahan dalam menjaga akurasi, keberimbangan, dan integritas dapat memengaruhi kredibilitas yang telah dibangun dalam waktu panjang.

Karena itu, media perlu menempatkan kepentingan publik sebagai salah satu pijakan dalam menjalankan aktivitas jurnalistik.

Asri Hadi juga mengingatkan pers agar tidak memperbesar polarisasi melalui informasi yang belum terverifikasi.

Dalam kondisi tersebut, jurnalis harus mampu menghadirkan informasi yang memberikan pemahaman, bukan sekadar memancing perhatian.

Adaptasi Teknologi Tak Boleh Mengubah Prinsip

Perkembangan teknologi turut mengubah cara media memproduksi, mengolah, dan mendistribusikan informasi kepada masyarakat.

BACA JUGA:  Babinsa Koramil 24/Nibong Hadiri Rapat Persiapan Maulid Nabi Muhammad SAW di Aceh Utara

Konvergensi media mempertemukan platform cetak, daring, elektronik, dan multimedia dalam satu ekosistem pemberitaan.

Asri Hadi menilai perusahaan pers harus mengikuti perubahan tersebut tanpa mengorbankan prinsip jurnalistik.

“Teknologi terus berubah, tetapi prinsip dasar jurnalistik tidak boleh ikut berubah,” ujarnya.

Ia menyebut akurasi, verifikasi, keberimbangan, independensi, dan tanggung jawab kepada publik tetap menjadi fondasi pers.

Menurutnya, transformasi digital juga harus membuka cara baru bagi media membangun komunikasi yang sehat dengan masyarakat.

Dengan demikian, teknologi dapat menjadi alat penguatan kualitas jurnalistik, bukan sekadar sarana mengejar kecepatan distribusi berita.

Asri Hadi juga menempatkan media sebagai jembatan informasi antara masyarakat, pemerintah, dunia usaha, dan berbagai kelompok kepentingan.

Karena itu, pers harus menjaga independensi sekaligus menjalankan fungsi kontrol sosial secara profesional.

“Pers harus tetap menjadi jembatan bagi publik. Ketika masyarakat mendapatkan informasi yang akurat dan berimbang, media ikut membantu menciptakan ruang publik yang lebih sehat,” ujarnya.

Ia berharap insan pers terus meningkatkan kapasitas profesional menghadapi perubahan industri yang semakin kompleks.

Bagi AMKI, perusahaan pers juga perlu memperkuat tata kelola agar kualitas jurnalistik berjalan seiring dengan keberlanjutan industri.

“Media yang sehat membutuhkan ekosistem yang sehat. Profesionalisme perusahaan pers, kualitas jurnalistik dan kepercayaan publik harus berjalan bersama,” pungkas Asri Hadi.

Penghargaan kepada Dadang Rachmat akhirnya membawa pesan lebih luas bagi perjalanan pers di tengah transformasi industri.

Apresiasi tersebut menunjukkan bahwa ketekunan menjalankan profesi tetap memiliki arti ketika media menghadapi tekanan perubahan teknologi dan kompetisi informasi.

Bagi Asri Hadi, pers masa depan membutuhkan kemampuan beradaptasi tanpa kehilangan identitas utamanya sebagai penyedia informasi yang akurat, berimbang, dan bertanggung jawab.

About The Author