Suara Inetizen

suarainetizen.com

Adik Wartawan CameraJurnaliscom Diduga Dianiaya, Virgo Dilaporkan ke Polisi

SuaraINetizen.ComBANTAENG, Dugaan tindak pidana penganiayaan menimpa seorang perempuan yang disebut memiliki hubungan keluarga dengan wartawan CameraJurnalis.com. Peristiwa tersebut kini telah dilaporkan secara resmi kepada pihak kepolisian.

 

Berdasarkan Surat Tanda Penerimaan Laporan (STPL) Polres Bantaeng tertanggal 1 September 2026, korban berinisial Riska melaporkan seorang laki-laki bernama Virgo atas dugaan penganiayaan yang terjadi di wilayah Kabupaten Bantaeng.

 

Dalam uraian laporan, peristiwa bermula ketika Virgo diduga mendatangi korban dan menanyakan persoalan pembayaran pinjaman koperasi.

 

Situasi kemudian disebut memanas hingga korban mengaku mengalami tindakan kekerasan.

 

Korban dalam laporannya menyebut Virgo diduga merampas telepon selulernya. Saat korban berusaha mengambil kembali ponsel tersebut, Virgo diduga melakukan pemukulan pada bagian wajah korban hingga mengenai area bibir.

 

Akibat kejadian tersebut, korban disebut mengalami luka robek pada bagian bawah bibir. Atas kejadian itu, korban kemudian memilih menempuh jalur hukum dengan membuat laporan ke Polres Bantaeng agar dugaan tindak kekerasan tersebut diproses sesuai ketentuan hukum.

 

Perkara ini menjadi perhatian karena menyangkut dugaan kekerasan terhadap anggota keluarga seorang insan pers.

About The Author

BACA JUGA:  Wujudkan Pertahanan Laut, Indonesia Maksimalkan Moderenisasi Alutsista Jakarta - LEMBAGA Kajian Geopolitik dan Pertahanan (Geodef Institute) menggelar diskusi ilmiah (Expert Discussion) bertema  Modernisasi Sistem Pertahanan Laut : Menjawab Tantangan Geopolitik dan Mewujudkan Postur Essential Force (MEF) di Jakarta, Selasa (25/11/25). Direktur Eksekutif Sahrir Rumluan mengatakan bahwa diskusi ini bertujuan untuk menganalisis isu-isu strategis terkini dalam bidang pertahanan dan keamanan nasional.  Menurut Sahrir, untuk memodernisasi sistem pertahanan laut strategis di Indonesia, membutuhkan peningkatan anggaran. "Karena itu, menjadi urgen peningkatan alutsita pertahanan laut untuk dimoderenisasi dan peningkatan anggaran terkait moderenisasi sistem pertahanan laut Indonesia itu sendiri. Jadi, Indonesia harus berupaya secara maksimal dalam konteks anggarannya sehingga Indonesia menjadi negara yang kuat dalam pertahanan laut secara komprehensif," kata Sahrir. Karena itu, Sahrir mengatakan Indonesia harus Mengukur Kesiapan Armada untuk mengevaluasi Capaian Minimum Essential Force (MEF). Menurut Sahrir, Geodef Institute bersama para expert berupaya maksimal menganalisis sejauh mana target MEF 2024 khususnya matra laut telah tercapai, membandingkannya dengan kekuatan dan kebijakan anggaran pertahanan laut negara-negara tetangga. "Selain, tentu saja berupaya merumuskan rekomendasi kebijakan anggaran pertahanan laut yang strategis untuk masa depan," kata Sahrir. Diskusi Geodef institute yang dipandu Gemah Putra ini menghadirkan pembicara : Pengamat Geopolitik Hendrajit, Pengamat Politik Fajrin Rumalutur dan Pengamat Militer Khairul Fahmi. Menurut Hendrajit, tantangan geopolitik Indonesia, masuk dalam katagori strategis dan kompleks. Karena itu, Indonesia melibatkan komponen bangsa, untuk bela negara dalam kerangka geopolitik. Pengamat Politik Fajrin Rumalutur menegaskan bahwa peningkatan modernisasi alutsista menjadi kebutuhan dalam penguatan kapasitas sistem pertahanan laut indonesia. "Politik anggaran pertahanan yang berbasis pada kebutuhan real dan tantangan di lapangan. Selain untuk meningkatkan kapasitas pertahanan laut kita juga mengantisipasi aktivitas non perang yang menyebabkan kerugian negara seperti praktik ilegal fishing, human traficking dan transaksi narkotika," kata Fajrin. Menurut Fajrin, pemerintah kiranya perlu menambah alokasi anggaran untuk Matra angkatan laut pada angka yang ideal dan proporsional. Sedangkan Pengamat Militer Khairul Fahmi mengatakan bahwa modernisasi tidak hanya pada alutsista saja, tapi juga readyness dan peningkatan soft skill serta sumberdaya prajurit yang handal, mumpuni dan profesional. "Karena itu, anggaran pertahanan Indonesia perlu didorong hingga 1 persen dari Gross Domestic Product," kata Khairul Fahmi.