Suara Inetizen

suarainetizen.com

PalmCo Perluas Kemitraan Petani Sawit, Targetkan Pasokan 85 Persen pada 2030

Jakarta – PTPN IV PalmCo memperkuat kemitraan dengan petani sawit rakyat untuk meningkatkan produktivitas kebun, memperbesar pasokan bahan baku, dan menjaga daya saing industri kelapa sawit nasional.

Strategi tersebut mengemuka dalam Gathering Petani Mitra 2026 yang digelar PTPN IV Regional III di Bandung, Jawa Barat, pada pertengahan Oktober 2026.

Melalui kegiatan bertema Break the Limit, Make the Leap, perusahaan mendorong kolaborasi antara perkebunan negara dan petani rakyat untuk memperkuat rantai pasok industri sawit.

Direktur Hubungan Kelembagaan PTPN IV PalmCo, Arya Sandhiyudha, menilai integrasi petani bukan sekadar tanggung jawab korporasi, melainkan kebutuhan strategis menghadapi persaingan pasar global.

Menurut Arya, perusahaan perkebunan negara membutuhkan kekuatan petani rakyat agar mampu memperluas basis pasokan dan meningkatkan daya saing.

“Di peta sawit nasional, luasan PTPN berada di kisaran 5 persen,” kata Arya.

“Kita tidak akan bisa bersaing dengan 53 persen pihak swasta jika berdiri sendiri,” ujarnya.

“Kekuatan baru akan tercipta jika kita menggandeng dan mengintegrasikan 42 persen kekuatan petani sawit rakyat,” lanjut Arya.

Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya kolaborasi untuk mengoptimalkan potensi petani dalam struktur industri kelapa sawit nasional.

Karena itu, PalmCo mengarahkan kemitraan untuk memperkuat pasokan TBS, meningkatkan produktivitas, dan memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat perkebunan.

Strategi tersebut sejalan dengan kebijakan Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, yang mendorong kemitraan serta percepatan Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR).

Melalui pendampingan teknis, perbaikan budidaya, dan penyerapan tandan buah segar (TBS), perusahaan berupaya membangun hubungan usaha yang saling menguntungkan.

Puluhan Ribu Petani Bermitra di Riau

Pelaksana Tugas Region Head PTPN IV Regional III, Sori P. Ritonga, mengatakan kemitraan petani telah menjadi bagian dari perjalanan perusahaan di Riau sejak era PTPN V.

Sejak dekade 1980-an, perusahaan mengembangkan kerja sama melalui pembangunan kebun plasma, pembinaan kelembagaan petani, dan pendampingan peremajaan tanaman.

Kini, PTPN IV Regional III bermitra dengan puluhan ribu petani yang mengelola kebun masyarakat seluas lebih dari 56.000 hektare.

Sebagai perbandingan, luas kebun inti perusahaan mencapai sekitar 71.000 hektare.

BACA JUGA:  Cetak Rekor Di Expo 2025 Osaka, Paviliun Indonesia Pencapaian Luar Biasa

Dengan demikian, luas kebun masyarakat dalam kemitraan setara hampir 80 persen dari luas kebun inti perusahaan.

Bahan perusahaan menyebut capaian tersebut melampaui ketentuan fasilitasi pembangunan kebun masyarakat sebesar 20 persen.

Namun, perbandingan luas lahan itu tidak dengan sendirinya menunjukkan kesetaraan produktivitas, pendapatan, ataupun kesejahteraan petani.

Karena itu, penilaian keberhasilan kemitraan juga perlu mempertimbangkan hasil panen, harga jual, biaya produksi, dan manfaat ekonomi yang diterima petani.

Menurut Sori, kemitraan berperan menjaga ketersediaan bahan baku sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan.

Untuk memperkuat koordinasi, perusahaan menerapkan sistem manajemen tunggal atau single management yang mengintegrasikan pengelolaan kebun, praktik budidaya, pembinaan kelembagaan, dan pemasaran hasil panen.

Melalui pendekatan tersebut, petani memperoleh pendampingan teknis dan akses pasar, sedangkan perusahaan memperkuat kesinambungan pasokan TBS.

Dengan demikian, kemitraan tidak hanya menghubungkan petani dengan pabrik pengolahan, tetapi juga menjadi bagian dari strategi pengelolaan perkebunan secara terpadu.

Peremajaan Sawit Rakyat Jadi Tumpuan Produktivitas

Selain memperluas kerja sama, PalmCo mendorong PSR untuk meningkatkan produktivitas kebun yang telah memasuki usia tidak produktif.

Salah satu contoh yang disampaikan perusahaan berasal dari KUD Tunas Muda, koperasi mitra yang mengikuti program peremajaan sawit rakyat.

Sori menyebut produktivitas kebun koperasi tersebut mencapai 21,3 ton TBS per hektare pada tahun menghasilkan kedua atau TM 2.

Menurut dia, angka itu sekitar 43 persen lebih tinggi daripada standar produktivitas Pusat Penelitian Kelapa Sawit untuk fase pertumbuhan yang sama.

Capaian tersebut menunjukkan potensi peningkatan hasil melalui penggunaan bibit unggul, praktik budidaya yang baik, dan pendampingan berkelanjutan.

Meski demikian, hasil satu koperasi belum cukup untuk menggambarkan produktivitas seluruh kebun mitra karena kondisi tanaman dan pengelolaan setiap kebun dapat berbeda.

Karena itu, perluasan program PSR menjadi salah satu langkah perusahaan untuk memperbarui tanaman dan menjaga produktivitas kebun rakyat dalam jangka panjang.

Hingga Oktober 2026, petani mitra Regional III telah mengantongi rekomendasi teknis peremajaan untuk sekitar 3.100 hektare lahan.

Angka tersebut mencakup hampir 70 persen dari target peremajaan tahun ini yang mencapai 4.500 hektare.

BACA JUGA:  Perkuat Kedaulatan di Perbatasan, BI Jatim dan Pasmar 2 Gelar ToT Edukasi Rupiah untuk Satgas Pulau Terluar

Selanjutnya, perusahaan menargetkan peremajaan lahan plasma mencapai 22.000 hektare secara bertahap pada 2027–2028.

Arya juga menyampaikan pelaksanaan PSR Award tahun ini sebagai bentuk apresiasi sekaligus evaluasi atas capaian peremajaan bersama petani mitra.

“Harapannya, pasca-PSR Award, terjadi akselerasi program peremajaan yang lebih masif ke depannya,” ujar Arya.

Namun, pencapaian target peremajaan tidak hanya bergantung pada rekomendasi teknis, tetapi juga pada realisasi penanaman kembali dan keberhasilan tanaman menghasilkan setelah peremajaan.

Kontribusi Pasokan Petani Dibidik 85 Persen pada 2030

Di tengah fluktuasi harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO), PalmCo menempatkan kepastian penyerapan TBS sebagai salah satu perhatian dalam pengelolaan kemitraan.

Sori mengatakan Regional III berupaya menjaga harga pembelian TBS agar tetap kompetitif dan memberikan ruang keuntungan bagi petani mitra.

“Kami berupaya menjaga harga beli di tingkat petani tetap stabil dan bersaing,” kata Sori.

Ia juga mengaitkan kepercayaan petani terhadap perusahaan dengan volume pasokan yang masuk ke pabrik kelapa sawit setiap hari.

“Kepercayaan pasar ini terlihat dari volume antrean pasokan yang masuk ke Pabrik Kelapa Sawit (PKS) kami secara harian,” ujarnya.

Menurut Sori, kepastian penyerapan panen membantu petani menjaga keberlangsungan usaha ketika harga komoditas berfluktuasi.

Di sisi lain, pasokan dari kebun mitra membantu perusahaan menjaga ketersediaan bahan baku untuk mendukung operasional dan pengembangan industri hilir.

Sori mencatat kontribusi TBS dari kebun mitra terhadap total pasokan perusahaan meningkat dari sekitar sembilan persen pada 2019 menjadi 34 persen saat ini.

Perusahaan kemudian memproyeksikan kontribusi tersebut mencapai 45 persen dalam jangka menengah, sebelum meningkat menjadi 85 persen pada 2030.

Target itu mengikuti arah Rencana Jangka Panjang perusahaan yang semakin mengandalkan kolaborasi dengan petani sawit rakyat.

Meski demikian, target 85 persen masih berupa proyeksi perusahaan yang membutuhkan peningkatan produktivitas, perluasan kemitraan, dan kepastian pasokan secara berkelanjutan.

Untuk 2026, Regional III menargetkan produktivitas kebun mencapai 24,5 ton per hektare.

BACA JUGA:  Tiga Atlet Junior Riau Rebut Tiket Timnas, PalmCo Uji Hasil Pembinaan di Seleknas

Selain itu, perusahaan membidik pembelian TBS dari kemitraan PSR sebesar satu juta ton, meningkat dari rata-rata tahun sebelumnya yang berada di kisaran 900.000 ton.

Sori menghubungkan sasaran operasional tersebut dengan proyeksi laba perusahaan sebesar Rp3,1 triliun pada tahun ini.

“Tahun ini kami memproyeksikan pencapaian produktivitas di angka 24,5 ton per hektare,” ujar Sori.

“Dari sisi kemitraan, pembelian TBS dari program PSR ditargetkan mencapai satu juta ton, melampaui rata-rata tahun sebelumnya yang berada di kisaran 900 ribu ton,” katanya.

“Hal ini diharapkan bermuara pada capaian estimasi laba sebesar Rp3,1 triliun,” lanjut Sori.

Pernyataan tersebut memperlihatkan keterkaitan antara produktivitas kebun, peningkatan pasokan petani, dan kinerja keuangan perusahaan.

Namun, proyeksi laba Rp3,1 triliun masih merupakan sasaran perusahaan, bukan hasil akhir kinerja keuangan tahun berjalan.

Pertumbuhan Perusahaan Perlu Sejalan dengan Kesejahteraan Petani

Bagi PalmCo, peningkatan kontribusi petani dalam rantai pasok menjadi bagian dari strategi memperkuat ketahanan bahan baku dan menjaga keberlanjutan usaha perkebunan.

Sementara itu, manfaat kemitraan bagi petani bergantung pada peningkatan produktivitas, akses pasar, kepastian penyerapan TBS, dan harga jual yang kompetitif.

Karena itu, keberhasilan perusahaan tidak cukup diukur dari peningkatan volume pasokan maupun pencapaian target laba.

Perusahaan juga perlu memastikan bahwa kemitraan memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi petani melalui pendampingan, peremajaan tanaman, dan akses pasar yang berkelanjutan.

Di sisi lain, petani membutuhkan kepastian usaha agar dapat mempertahankan produktivitas kebun dan memenuhi kebutuhan investasi untuk perawatan maupun peremajaan tanaman.

Melalui penguatan kemitraan, percepatan PSR, dan penyerapan hasil panen, PalmCo menargetkan ekosistem perkebunan yang lebih terintegrasi dan produktif.

Pada akhirnya, realisasi target kontribusi pasokan 85 persen pada 2030 akan bergantung pada pelaksanaan program, perkembangan produktivitas kebun, serta kemampuan perusahaan mempertahankan hubungan usaha yang saling menguntungkan dengan petani rakyat.

Perusahaan juga perlu menjaga transparansi pelaksanaan program dan perkembangan capaian agar petani serta pemangku kepentingan dapat menilai kemajuan kemitraan berdasarkan hasil yang terukur.

About The Author