
Ket : Prada Lucky, Brigadir Joshua, dan Brigadir Nurhadi Tewas di Tangan Seniornya
Jakarta, SuaraINetizen.Com, Isak tangis dan duka mendalam kembali menyelimuti Tanah Air. Tiga nama anggota TNI dan Polri Prada Lucky, Brigadir Joshua Hutabarat, dan Brigadir Nurhadi kini menjadi simbol luka dalam tubuh institusi negara. Mereka tewas bukan karena bertempur melawan musuh bangsa, tetapi karena kekerasan di lingkungan internal oleh rekan atau senior mereka sendiri.
Prada Lucky, anggota TNI AD yang baru dua bulan menyandang pangkat prajurit dua, meninggal dunia usai diduga menjadi korban kekerasan fisik yang dilakukan seniornya di Nusa Tenggara Timur pada 6 Agustus 2025. Duka kian dalam karena almarhum merupakan putra dari seorang prajurit TNI yang masih aktif berdinas.
Kisah serupa juga menimpa Brigadir Joshua Hutabarat yang tewas pada tahun 2022 di Jakarta. Ia ditembak oleh sesama anggota Polri atas perintah atasannya saat itu, Ferdy Sambo, dalam peristiwa yang menyita perhatian publik nasional dan internasional.
Sementara di Lombok, Brigadir Nurhadi menghembuskan napas terakhir usai mengalami penganiayaan oleh seniornya. Motif sementara menyebutkan, peristiwa tersebut dipicu karena persoalan pribadi, yakni kedekatan korban dengan rekan wanita pelaku.
Menanggapi berulangnya kasus serupa, Ketua Gerakan Masyarakat Dan Mahasiswa Pembela Tanah Air Indonesia (GEMMA PETA INDONESIA), Baron Harahap atau yang akrab disapa Ronald Harahap, menyampaikan keprihatinannya.
“Prada Lucky, Brigadir Joshua, dan Brigadir Nurhadi. Tiga nama, tiga cerita, satu luka yang sama. Mereka gugur bukan di medan perang, tapi di tangan sesama. Saatnya hentikan kekerasan dan tegakkan keadilan,” tegas Baron dalam pernyataannya, Minggu (17/8).
Ia menambahkan bahwa kekerasan yang terjadi di lingkungan militer dan kepolisian bukan hanya mencoreng nama institusi, tetapi juga menghancurkan harapan keluarga, serta kepercayaan masyarakat terhadap aparat penegak hukum dan pertahanan negara.
“Penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan integritas dalam tubuh TNI-Polri harus menjadi prioritas utama. Tidak ada ruang untuk kekerasan apalagi terhadap sesama rekan,” lanjutnya.
Baron juga menyerukan agar reformasi menyeluruh dilakukan terhadap pola pembinaan, sistem pengawasan, dan evaluasi menyeluruh terhadap kultur internal, terutama pada fase pendidikan dan masa dinas awal anggota baru.
(Red)
More Stories
Puji Sikap Kesatria dan Langkah Tegas Kapolri dan Kapolda Metro Jaya, Pengamat Serukan Elemen Masyarakat Bersatu Jaga Keutuhan NKRI
Dewan Pers Keluarkan Seruan Terkait Pemberitaan Unjuk Rasa di Jakarta
Dewan Pers : Kongres Persatuan PWI Akhiri Dualisme dan Gugatan