Suara Inetizen

suarainetizen.com

Lepas Masa Tugas, AKBP Restu Wijayanto Dikenang Sebagai Kapolres Humanis yang Dirindukan di Bulukumba

SuaraINetizen.Com – BULUKUMBA, Suasana haru menyelimuti keluarga besar Polres Bulukumba beserta perwakilan elemen masyarakat setempat pada Jumat (31/07/2026), dalam acara pelepasan berakhirnya masa tugas AKBP Restu Wijayanto, S.I.K. sebagai Kepala Polres Bulukumba.

Momen perpisahan yang penuh kehangatan ini sekaligus menandai serah terima amanah kepemimpinan, sebelum AKBP Restu Wijayanto berangkat menuju tempat tugas yang baru. Hadir mendampingi dalam acara tersebut, istrinya Ny. Ruthi Restu, diikuti seluruh jajaran perwira dan personel Polres Bulukumba, tokoh agama, tokoh adat, serta perwakilan organisasi kemasyarakatan.

Selama menjabat memimpin institusi kepolisian di Bumi Panrita Lopi, sosok AKBP Restu Wijayanto dikenal luas sebagai pemimpin yang tegas dalam menegakkan hukum, namun tetap memegang prinsip humanis, dekat dengan anggota, serta sangat peduli terhadap kebutuhan dan aspirasi masyarakat.

Di bawah kepemimpinannya, Polres Bulukumba terus memperkuat kualitas pelayanan publik, menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat, serta membangun sinergi yang erat dan harmonis dengan seluruh lapisan warga. Berbagai program yang digulirkan dinilai memberikan dampak nyata bagi kenyamanan dan keamanan wilayah Kabupaten Bulukumba.

Dalam kesempatan tersebut, keluarga besar Polres Bulukumba menyampaikan ucapan terima kasih yang setulus-tulusnya atas dedikasi, kerja keras, dan keteladanan yang telah diberikan selama mengemban tugas.

“Terima kasih atas seluruh pengabdian, dedikasi, dan keteladanan yang telah diberikan selama memimpin Polres Bulukumba. Jejak kepemimpinan yang humanis akan selalu dikenang, dan nama AKBP Restu Wijayanto akan tetap menjadi sosok yang dirindukan di Bumi Panrita Lopi,” ujar perwakilan keluarga besar Polres Bulukumba.

Selain ucapan terima kasih, seluruh pihak yang hadir juga mendoakan agar mantan Kapolres ini senantiasa diberikan kesehatan yang prima, kemudahan langkah, serta kesuksesan besar dalam menjalankan amanah di tempat tugas yang baru.

BACA JUGA:  Wujudkan Pertahanan Laut, Indonesia Maksimalkan Moderenisasi Alutsista Jakarta - LEMBAGA Kajian Geopolitik dan Pertahanan (Geodef Institute) menggelar diskusi ilmiah (Expert Discussion) bertema  Modernisasi Sistem Pertahanan Laut : Menjawab Tantangan Geopolitik dan Mewujudkan Postur Essential Force (MEF) di Jakarta, Selasa (25/11/25). Direktur Eksekutif Sahrir Rumluan mengatakan bahwa diskusi ini bertujuan untuk menganalisis isu-isu strategis terkini dalam bidang pertahanan dan keamanan nasional.  Menurut Sahrir, untuk memodernisasi sistem pertahanan laut strategis di Indonesia, membutuhkan peningkatan anggaran. "Karena itu, menjadi urgen peningkatan alutsita pertahanan laut untuk dimoderenisasi dan peningkatan anggaran terkait moderenisasi sistem pertahanan laut Indonesia itu sendiri. Jadi, Indonesia harus berupaya secara maksimal dalam konteks anggarannya sehingga Indonesia menjadi negara yang kuat dalam pertahanan laut secara komprehensif," kata Sahrir. Karena itu, Sahrir mengatakan Indonesia harus Mengukur Kesiapan Armada untuk mengevaluasi Capaian Minimum Essential Force (MEF). Menurut Sahrir, Geodef Institute bersama para expert berupaya maksimal menganalisis sejauh mana target MEF 2024 khususnya matra laut telah tercapai, membandingkannya dengan kekuatan dan kebijakan anggaran pertahanan laut negara-negara tetangga. "Selain, tentu saja berupaya merumuskan rekomendasi kebijakan anggaran pertahanan laut yang strategis untuk masa depan," kata Sahrir. Diskusi Geodef institute yang dipandu Gemah Putra ini menghadirkan pembicara : Pengamat Geopolitik Hendrajit, Pengamat Politik Fajrin Rumalutur dan Pengamat Militer Khairul Fahmi. Menurut Hendrajit, tantangan geopolitik Indonesia, masuk dalam katagori strategis dan kompleks. Karena itu, Indonesia melibatkan komponen bangsa, untuk bela negara dalam kerangka geopolitik. Pengamat Politik Fajrin Rumalutur menegaskan bahwa peningkatan modernisasi alutsista menjadi kebutuhan dalam penguatan kapasitas sistem pertahanan laut indonesia. "Politik anggaran pertahanan yang berbasis pada kebutuhan real dan tantangan di lapangan. Selain untuk meningkatkan kapasitas pertahanan laut kita juga mengantisipasi aktivitas non perang yang menyebabkan kerugian negara seperti praktik ilegal fishing, human traficking dan transaksi narkotika," kata Fajrin. Menurut Fajrin, pemerintah kiranya perlu menambah alokasi anggaran untuk Matra angkatan laut pada angka yang ideal dan proporsional. Sedangkan Pengamat Militer Khairul Fahmi mengatakan bahwa modernisasi tidak hanya pada alutsista saja, tapi juga readyness dan peningkatan soft skill serta sumberdaya prajurit yang handal, mumpuni dan profesional. "Karena itu, anggaran pertahanan Indonesia perlu didorong hingga 1 persen dari Gross Domestic Product," kata Khairul Fahmi.

Perpisahan ini sekaligus menjadi bukti nyata bahwa pengabdian yang tulus, sikap rendah hati, dan kedekatan yang dibangun bersama masyarakat akan selalu dikenang dengan baik, meskipun masa tugas di wilayah tersebut telah berakhir.Tutupnya,”

Arifin sulsel

About The Author