Dalam Genggaman, Lebih Dekat dengan Al-Qur’an: Transformasi ngaji.ai Menyambut Ramadan 1447 H

Suarainetizen.com, Jakarta, 11 Februari 2026 – Niat yang sama terbetik di benak setiap Muslim saat menyambut datangnya Ramadan: ingin lebih dekat dengan Al-Qur’an dan lebih konsisten beribadah. Namun, niat baik itu sering berbenturan dengan kenyataan sehari-hari. Pekerjaan yang menumpuk, energi yang terbagi, serta ritme hidup yang cepat membuat upaya mendalami ajaran Al-Qur’an terasa tidak sederhana. Bukan karena kurang keinginan, melainkan karena tak jarang muncul kebingungan harus mulai dari mana dan bagaimana menjaganya agar tetap berlanjut.

Di titik inilah ngaji.ai menemukan peran idealnya. Berawal sebagai aplikasi belajar mengaji, ngaji.ai kini bertransformasi menjadi pendamping ibadah harian yang selalu ada dalam genggaman. Hingga hari ini, sudah 403 ribu pengguna telah menggunakan ngaji.ai, dengan sekitar 39 ribu di antaranya berlangganan premium. Angka ini bukan semata pencapaian, melainkan cerminan kebutuhan akan cara beribadah yang terasa lebih dekat, terarah, dan relevan dengan kehidupan modern.

Fara Abdullah, Chief Business Development Officer (CBDO) Vokal.ai, startup edukasi digital yang menaungi ngaji.ai melihat fase ini sebagai momentum penting. “ngaji.ai ingin tumbuh menjadi produk yang matang secara strategi, berdampak nyata dalam penggunaan, dan tetap berpijak pada nilai-nilai keislaman. Antusiasme dari pengguna di Indonesia menunjukkan bahwa kebutuhan akan pendamping ibadah yang kontekstual itu nyata. Banyak orang ingin hidupnya lebih selaras dengan nilai Al-Qur’an, tapi merasa kewalahan. ngaji.ai ingin hadir bukan untuk menghakimi atau membebani, melainkan menemani. Perlahan, konsisten, dan relevan dengan kehidupan hari ini,” ujarnya. Berbekal pengalamannya mengelola aplikasi panduan gaya hidup Muslim berskala global, Fara optimistis ngaji.ai siap melangkah lebih jauh.

Bagi banyak pengguna, kehadiran ngaji.ai membuat ajaran Al-Qur’an terasa lebih membumi. Tidak lagi hadir sebagai tuntutan besar yang terasa menakutkan, tetapi sebagai langkah-langkah kecil yang bisa dijalani setiap hari. Semua terstruktur dengan rapi, sehingga pengguna tidak perlu merasa kewalahan menghadapi banyaknya amalan dan tuntunan. Satu aplikasi, satu fokus, satu ikhtiar dalam satu waktu.

BACA JUGA:  Penyelundupan 755 Balepress Berhasil di Gagalkan, Sinergi TNI AL dan Bea Cukai

Dari Belajar ke Menjalani

Seiring waktu, ngaji.ai tumbuh bersama penggunanya. Bukan hanya dari jumlah, tetapi dari cara aplikasi ini digunakan. Rata-rata waktu penggunaan harian mencapai lebih dari tujuh menit per pengguna. Angka yang mungkin terlihat sederhana, tetapi bermakna besar karena menunjukkan bahwa ngaji.ai benar-benar hadir dalam rutinitas ibadah sehari-hari.

“Ini bukan aplikasi yang dibuka sekali lalu ditinggalkan,” ujar Vanya Sunanto, COO Vokal.ai. “Pengguna kembali setiap hari karena merasa ditemani.” Bersama Adithya Zulfan, Head of Marketing Vokal.ai, ia melihat keterlibatan ini sebagai tanda bahwa pendekatan yang diambil ngaji.ai selaras dengan kebutuhan pengguna Muslim modern di Indonesia.

Transformasi paling terasa hadir lewat pengembangan tampilan homepage serta fitur-fitur baru: Sholat, untuk bantu pengguna ‘absen’ ibadah wajib lima kali seharinya; Doa, Dzikir, dan yang paling menarik, Ikhtiar. Melalui fitur Ikhtiar, pengguna tidak dihadapkan pada daftar panjang amalan yang melelahkan, tetapi diajak memilih satu fokus ikhtiar. Bisa sesederhana menjaga lisan, lebih disiplin salat tepat waktu, atau meluangkan waktu untuk dzikir harian. Setiap ikhtiar dibagi ke dalam tugas-tugas kecil selama tujuh hari, membuat prosesnya terasa ringan dan realistis.

Verti Tri Wahyuni, momfluencer (instagram @ve.idn) sekaligus pengguna lama ngaji.ai merasakan perubahan ini secara personal. “Yang paling berat dari ibadah itu bukan niatnya, tapi konsistensinya. Ikhtiar di ngaji.ai bikin saya merasa tidak sendirian. Target besar dipecah jadi langkah kecil, jadi tidak terasa menekan,” tuturnya. Baginya, ngaji.ai membantu menghubungkan antara belajar Al-Qur’an dan benar-benar mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Menatap 2026 

Transformasi ini juga menjadi fondasi bagi langkah ngaji.ai ke depan. Tahun 2026 dipandang sebagai momentum penting. Rencana untuk menjalin kerja sama strategis dengan lebih banyak institusi bisnis dan pemerintah telah dirintis dan dijalankan tahun ini.

BACA JUGA:  Lahan Sitaan Jadi Lumbung Pangan: Kejaksaan Agung Gelar Panen Raya di Tambun Utara Bekasi

Untuk jangka lebih panjang lagi ngaji.ai juga tidak menutup kemungkinan untuk melirik pasar Asia Tenggara, wilayah dengan sekitar 290 juta populasi Muslim. Dengan meningkatnya adopsi teknologi AI, cara orang belajar dan beribadah pun ikut berubah.

“Kami percaya teknologi ini akan sangat berguna untuk banyak individu dan institusi yang kami akan bangun kerja samanya,” kata Fara Abdullah. “Kami juga melihat peluang besar di masa depan untuk menghadirkan pendamping ibadah yang memahami konteks budaya, ritme hidup, dan kebutuhan Muslim masa kini di mana pun mereka berada,” ujar Fara.

Dampak yang Melampaui Aplikasi

“Selain fokus pada pengalaman personal pengguna, ngaji.ai juga memperluas dampaknya melalui kolaborasi sosial. Salah satu kerja sama jangka panjang yang dijalani adalah dengan RumahZakat, yang kini memasuki tahun kedua. Kolaborasi ini bermula dari penyaluran bantuan kemanusiaan untuk Palestina, melalui alokasi 25 persen pembelian langganan premium,” ungkap Adhitya Zulfan.

Seiring berjalannya waktu dan respons positif dari pengguna, kerja sama tersebut diperluas ke bidang pendidikan, penanggulangan bencana, serta program-program Ramadan. Bagi ngaji.ai, ibadah bukan hanya soal relasi personal dengan Allah, tetapi juga tentang kepedulian sosial yang nyata.

Di bidang edukasi, ngaji.ai aktif bekerja sama dengan institusi pendidikan di Kabupaten Hulu Sungai Tengah dan Kota Bandung. Kolaborasi dengan komunitas Muslim dan mitra gaya hidup seperti Noore Sport dan One Day One Juz juga dilakukan untuk memperluas literasi Al-Qur’an dan menjembatani ibadah dengan keseharian Muslim urban.

“Menyambut Ramadan 1447 H tahun ini, ngaji.ai mengajak umat Muslim menjadikan bulan suci ini sebagai awal, bukan puncak. Awal untuk membangun kebiasaan ibadah yang konsisten, terstruktur, dan terasa dekat. Karena kini, untuk hidup lebih dekat dengan Al-Qur’an, tidak harus menunggu waktu luang yang sempurna. Cukup membuka genggaman, dan melangkah perlahan, satu ikhtiar pada satu waktu,” pungkas Vanya Sunanto.

BACA JUGA:  Yahdil Abdi Harahap Klarifikasi Isu Surat PAN Jabar: Jangan Kaitkan dengan Mendes Yandri

About The Author