Ket. “Humana Youth Diplomacy Platform” Sukses di gelar Di Istanbul Turki ( Dok ist)
Suarainetizen.com, Istanbul, Turki
5 Maret 2026 — Pemuda dari berbagai negara berkumpul dalam “Humana Youth Diplomacy Platform”, sebuah forum diskusi dan workshop internasional yang membahas masa depan diplomasi global dari perspektif generasi muda. Kegiatan ini menghadirkan peserta dari berbagai latar belakang negara seperti Indonesia, Turki, Pakistan, Rusia, Ethiopia, Aljazair, Kazakhstan, Italia, Georgia, Kamboja, Tajikistan, Suriah, Crimea, Sudan, Makedonia, dan Mesir.
Dalam acara tersebut, Naufal Ubaidillah, President Global Youth Diplomacy Community in Turkiye, Ketua PPI Turki, dan Ketua Umum Terdepan Institute, penggagas forum sekaligus aktivis pemuda Indonesia, menekankan bahwa generasi muda memiliki peran strategis dalam membentuk arah masa depan dunia melalui kekuatan narasi.
Menurut Naufal, pemuda bukan hanya sekadar generasi penerus, tetapi juga “transportir” yang membawa nilai-nilai dari masa lalu, memahami tantangan masa kini, dan membentuk visi masa depan.
“Pemuda memiliki kekuatan besar dalam membentuk narasi dunia. Kita adalah transporter antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. Narasi yang perlu kita bawa ke masa depan adalah diplomasi yang lebih banyak mendengar, lebih banyak memahami ‘yang lain’, dan lebih terbuka terhadap perbedaan,” ujar Naufal dalam sambutannya.
Ia juga menambahkan bahwa diplomasi di masa depan tidak hanya terjadi di ruang-ruang negosiasi formal, tetapi juga melalui medium narasi dan budaya seperti film, buku, seni, serta berbagai platform kreatif yang mampu menjangkau masyarakat luas.
Sementara itu, pembicara internasional Martina Pavone, pendiri Humana Diplomacy, memberikan sesi masterclass mengenai konsep “Humana Diplomacy”, sebuah pendekatan alternatif terhadap diplomasi tradisional.
Dalam paparannya, Martina menjelaskan bahwa diplomasi tradisional yang bersifat reaktif dan institusional perlu berevolusi menjadi diplomasi yang lebih regeneratif dan sistemik.
Ia menjelaskan beberapa pergeseran penting dalam paradigma diplomasi global, antara lain:
Dari kepentingan berbasis negara menuju kesadaran saling ketergantungan berbasis planet.
Dari struktur formal dan hierarkis menuju hubungan yang lebih relasional, inklusif, dan multisuara.
Dari proses yang lambat dan top-down menuju pendekatan yang adaptif, partisipatif, dan kolaboratif.
Dari sekadar kata-kata dan perjanjian menuju aksi nyata melalui proyek, pendidikan, dan kehadiran langsung di masyarakat.
Dari logika kekuatan dan keseimbangan menuju pembangunan kepercayaan dan transformasi sosial.
Selain sesi diskusi dan masterclass, acara ini juga dilanjutkan dengan workshop interaktif yang membagi para peserta ke dalam empat kelompok diskusi tematik.
Keempat kelompok tersebut membahas berbagai isu penting dalam diplomasi generasi baru, yaitu:
1. Bahasa dan Polarisasi
2. Kepercayaan dan Institusi
3. Peran Pemuda dalam Diplomasi Global
4. Identitas Budaya dalam Hubungan Internasional
Dalam diskusi tersebut, para peserta tidak hanya bertukar pandangan mengenai tantangan global saat ini, tetapi juga merancang berbagai rencana proyek kolaboratif yang berpotensi menjadi inisiatif nyata di masa depan.
Forum ini diharapkan menjadi ruang pertemuan bagi generasi muda dunia untuk membangun jaringan lintas budaya, memperkuat dialog global, serta menciptakan pendekatan diplomasi yang lebih inklusif dan berbasis kemanusiaan.
Melalui kolaborasi lintas negara dan pertukaran gagasan yang konstruktif, generasi muda diyakini mampu memainkan peran penting dalam menciptakan dunia yang lebih damai, saling memahami, dan berkelanjutan.

More Stories
Ramadan Satukan Sikap Keras IARMI Jaktim
Juspay Amankan Investasi US$50 Juta Dari Westbrigde Capital Untuk Dorong Ekspansi Global
Delegasi Indonesia Jadi Pusat Perhatian di Global Leadership Summit 2025 di Bangkok