Pos Selal Tanam Pisang di Kampung Beringin: Dorong Ketahanan Pangan

Ket :Pos Selal Yonif 751/VJS Tanam Pisang di Kampung Beringin: Dorong Ketahanan Pangan

SuaraINetizen.ComKampung Beringin, Pegunungan Bintang, Personel Pos Selal Satgas Pamtas RI–PNG Yonif 751/Vira Jaya Sakti (VJS) melaksanakan penanaman pohon pisang bersama warga Kampung Beringin pada (Selasa,30/9/2025). Kegiatan gotong royong ini melibatkan tokoh masyarakat setempat, Bapak Naum, serta Kepala Kampung Beringin, Bapak Ignasius Jamki.

Aksi tanam pisang dilakukan di lahan bersama yang disiapkan warga, dengan tujuan memperkuat ketahanan pangan keluarga, membuka peluang ekonomi hasil panen, sekaligus menjaga tutupan hijau kampung. Prajurit dan warga bahu-membahu mulai dari pembukaan lahan, penggalian lubang tanam, penempatan bibit, hingga pemupukan awal.

“Kami ingin hasilnya dapat dinikmati masyarakat. TNI hadir bukan hanya menjaga perbatasan, tetapi juga mendorong kemandirian pangan,” ujar perwakilan Pos Selal.

Kepala Kampung, Bapak Ignasius Jamki, mengapresiasi dukungan TNI. Menurutnya, keterlibatan prajurit memotivasi warga untuk menata kebun secara lebih terarah dan berkelanjutan.

Kegiatan berlangsung aman, tertib, dan penuh keakraban, menegaskan kemanunggalan TNI–Rakyat serta komitmen membangun kesejahteraan dari perbatasan Papua.

About The Author

BACA JUGA:  Wujudkan Pertahanan Laut, Indonesia Maksimalkan Moderenisasi Alutsista Jakarta - LEMBAGA Kajian Geopolitik dan Pertahanan (Geodef Institute) menggelar diskusi ilmiah (Expert Discussion) bertema  Modernisasi Sistem Pertahanan Laut : Menjawab Tantangan Geopolitik dan Mewujudkan Postur Essential Force (MEF) di Jakarta, Selasa (25/11/25). Direktur Eksekutif Sahrir Rumluan mengatakan bahwa diskusi ini bertujuan untuk menganalisis isu-isu strategis terkini dalam bidang pertahanan dan keamanan nasional.  Menurut Sahrir, untuk memodernisasi sistem pertahanan laut strategis di Indonesia, membutuhkan peningkatan anggaran. "Karena itu, menjadi urgen peningkatan alutsita pertahanan laut untuk dimoderenisasi dan peningkatan anggaran terkait moderenisasi sistem pertahanan laut Indonesia itu sendiri. Jadi, Indonesia harus berupaya secara maksimal dalam konteks anggarannya sehingga Indonesia menjadi negara yang kuat dalam pertahanan laut secara komprehensif," kata Sahrir. Karena itu, Sahrir mengatakan Indonesia harus Mengukur Kesiapan Armada untuk mengevaluasi Capaian Minimum Essential Force (MEF). Menurut Sahrir, Geodef Institute bersama para expert berupaya maksimal menganalisis sejauh mana target MEF 2024 khususnya matra laut telah tercapai, membandingkannya dengan kekuatan dan kebijakan anggaran pertahanan laut negara-negara tetangga. "Selain, tentu saja berupaya merumuskan rekomendasi kebijakan anggaran pertahanan laut yang strategis untuk masa depan," kata Sahrir. Diskusi Geodef institute yang dipandu Gemah Putra ini menghadirkan pembicara : Pengamat Geopolitik Hendrajit, Pengamat Politik Fajrin Rumalutur dan Pengamat Militer Khairul Fahmi. Menurut Hendrajit, tantangan geopolitik Indonesia, masuk dalam katagori strategis dan kompleks. Karena itu, Indonesia melibatkan komponen bangsa, untuk bela negara dalam kerangka geopolitik. Pengamat Politik Fajrin Rumalutur menegaskan bahwa peningkatan modernisasi alutsista menjadi kebutuhan dalam penguatan kapasitas sistem pertahanan laut indonesia. "Politik anggaran pertahanan yang berbasis pada kebutuhan real dan tantangan di lapangan. Selain untuk meningkatkan kapasitas pertahanan laut kita juga mengantisipasi aktivitas non perang yang menyebabkan kerugian negara seperti praktik ilegal fishing, human traficking dan transaksi narkotika," kata Fajrin. Menurut Fajrin, pemerintah kiranya perlu menambah alokasi anggaran untuk Matra angkatan laut pada angka yang ideal dan proporsional. Sedangkan Pengamat Militer Khairul Fahmi mengatakan bahwa modernisasi tidak hanya pada alutsista saja, tapi juga readyness dan peningkatan soft skill serta sumberdaya prajurit yang handal, mumpuni dan profesional. "Karena itu, anggaran pertahanan Indonesia perlu didorong hingga 1 persen dari Gross Domestic Product," kata Khairul Fahmi.